Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Malang Sebut Wacana Pemilu Proporsional Tertutup Sebuah Kemunduran


Ketua Fraksi NasDem DPRD Malang, Amarta Faza, ST, M.Sos -instagram @toyyibmakki-

SEPUTAR MALANG RAYA - Ketua Fraksi Partai Nasdem Dprd Kabupaten Malang Amarta Faza menyebut wacana Pemilu memakai sistem Proporsional Tertutup adalah sebuah Kemunduran.

"Apa yang sudah kita capai saat ini dengan pemilu Proporsional Terbuka, sebenarnya adalah sebuah kemajuan, tetapi bila dikembalikan pada sistem proporsional tertutup maka hal ini tentu adalah sebuah kemunduran," terang Amarta Faza, saat dihubungi tim Redaksi Seputar Malang Raya.

Seperti diketahui, belakang ini cukup santer wacana terkait Pemilu 2024 menggunakan sistem proporsional tertutup alias mencoblos partai.

Meski baru menjadi wacana di tataran elit parpol, namun hal itu cukup banyak mendapat respon.

Terutama dari kalangan para politisi, termasuk Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Malang Amarta Faza.

(BACA JUGA:Tanggapi Soal Rancangan Dapil Pemilu 2024, Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Malang : 7 Dapil Masih Ideal)

Politisi Partai NasDem itu mengibaratkan, sistem proporsional tertutup, seperti halnya dengan membeli kucing dalam karung. 

Sehingga seorang pemilih tidak mengetahui secara pasti siapa yang ia pilih dan siapa yang bakal mewakili suara mereka di dapilnya.

"Karena dengan sistem tertutup, maka pemilih seperti membeli kucing dalam karung, karena mereka (pemilih) tidak tau siapa yang mereka pilih dan siapa yang akan mengemban aspirasi-aspirasi mereka," tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan Faza, bahwa sistem proporsioanal terbuka dinilainya lebih menghadirkan pemilihan yang transparan.

"Sehingga pemilih dapat mengenal calon anggota legislatif yang dipercayainya, sehingga pemilih tahu, siapa yang akan dimintai tanggung jawab terkait kinerja kelegislatifan di dapilnya," jelasnya.

(BACA JUGA:Timnas Indonesia Kalahkan Tuan Rumah Filipina 1-2, Shin Tae-Yong : Saya Sangat Tidak Puas)

Amarta Faza juga mengatakan, di internal Partai NasDem sendiri telah mengkaji dan mengevaluasi sistem Proporsional Tertutup.

"Kita sudah pernah mengevaluasi sistem tertutup, terkait bagaimana jika ada personal yang tidak di kenal di dapilnya, tidak pernah berkelindan bersama masyarakat, tiba-tiba duduk sebagai anggota legislatif, sehingga tidak memiliki hubungan terikat-erat dengan konstituen yang memilihnya," tandasnya.

Sementara itu, di sisi lain Faza menilai sistem proporsional terbuka masih sangat ideal dan lebih menarik perhatian masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya di TPS.

Sebab, dengan demikian masyarakat akan lebih tahu dan mengenal calon legislatif yang dipilih.

(BACA JUGA:Desa Wisata Sidorejo Indah, Sediakan Wahana Edukasi Outbound Fun Kid, Cocok untuk Outing Class TK dan PAUD)

"Pada sistem proporsional terbuka, tentu publik juga lebih tertarik untuk datang ke TPS, ketika mereka mengenal siapa calon legislatif yg akan dipilihnya," kata Amarta Faza, menjelaskan.

"Sedangkan pada sistem proporsional tertutup, dapat mereduksi antusiasme masyarakat untuk hadir di TPS. Hal ini juga Ditengah gelombang kekhawatiran kita terhadap besarnya potensi Golput saat ini," sambungnya.

Faza dengan tegas juga mengatakan, sistem proporsional tertutup dapat menggerus kedekatan emosional rakyat dengan calon anggota legislatif (Caleg).

"Terakhir saya tekankan bahwa sistem proporsional tertutup menggerus kedekatan emosional rakyat dan calon anggota legislatif," pungkasnya.

(SMR)

`
Kategori : Kabar Ngalam